Langsung ke konten utama

Biaya Tersembunyi dari Sebuah "Lelucon": Refleksi Kasus FHUI dan Toxic Masculinity di Dunia Kerja

Melihat berita tentang 16 mahasiswa FHUI yang terlibat grup chat pelecehan membuat saya teringat akan satu istilah dalam dunia keuangan: "Hidden Cost" atau biaya tersembunyi. 

Sesuatu yang pada awalnya terlihat "gratis" atau "hanya candaan," sebenarnya sedang menggerogoti nilai aset yang paling berharga, yaitu integritas dan reputasi.

Investasi yang Salah di Awal Karir

Saya teringat tahun pertama saya bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki. 

Saat itu, saya belajar tentang cara mengelola gaji pertama, tapi saya juga belajar tentang "pajak emosional" yang harus saya bayar setiap hari. Pajak itu berupa rasa tidak nyaman saat mendengar candaan seksual yang dilemparkan rekan kerja laki-laki sambil tertawa lepas.

Dalam kacamata ekonomi, lingkungan kerja seperti ini adalah bad investment. Perusahaan membayar gaji saya untuk produktivitas, tapi energi saya justru habis digunakan untuk membangun benteng pertahanan mental agar tidak "meledak" saat martabat saya dijadikan objek tertawaan.

Kasus FHUI: Depresiasi Nilai Seorang (Calon) Profesional

Ke-16 mahasiswa ini adalah calon penegak hukum dari kampus bergengsi—sebuah aset sumber daya manusia (SDM) yang seharusnya memiliki nilai tinggi di pasar kerja. Namun, dengan tindakan ini, mereka sedang melakukan self-depreciation (penurunan nilai diri) secara drastis sebelum benar-benar memulai karir.

Di dunia kerja profesional yang modern, perusahaan besar kini sangat memperhatikan aspek ESG (Environmental, Social, and Governance). 

Perilaku pelecehan adalah risiko tata kelola (governance) yang besar. Tidak ada firma hukum atau perusahaan multinasional yang mau mempekerjakan individu yang berisiko menjadi beban liability di masa depan karena masalah etika.

Kerugian Riil bagi Korban dan Perusahaan

Mari kita bicara angka. Pelecehan verbal di lingkungan kerja atau kampus menyebabkan:

1. Loss of Productivity: 
Korban kehilangan fokus dan motivasi, yang secara langsung berdampak pada hasil kerja.

2. Turnover Cost: 
Lingkungan yang tidak aman membuat talenta-talenta perempuan terbaik memilih resign. Biaya untuk merekrut dan melatih orang baru jauh lebih mahal daripada mempertahankan lingkungan kerja yang sehat.
  
3. Reputational Damage: 
Seperti UI saat ini, memulihkan nama baik institusi membutuhkan biaya komunikasi dan manajemen krisis yang tidak sedikit.

Bagi teman-teman yang sedang berada di situasi serupa, anggaplah kesejahteraan mentalmu sebagai aset yang harus dijaga ketat:

Bangun "Emergency Fund" Mental: 
Jangan ragu mengambil cuti atau mencari bantuan profesional (psikolog). Ini bukan biaya, tapi pemeliharaan aset (dirimu sendiri).

Ketahui Market Value-mu: 
Jangan merasa terjebak di satu kantor hanya karena gaji. Jika lingkungan tersebut merusak harga dirimu, mulailah melirik peluang di tempat lain yang memiliki budaya lebih inklusif.

Menjadi ahli hukum atau profesional yang sukses bukan hanya soal seberapa pintar kamu menghitung atau menghafal pasal. Ini soal bagaimana kamu menjaga nilai "saham" dirimu sendiri di mata publik.
Hukum tanpa nurani adalah kerugian bagi negara. Dan candaan tanpa batasan adalah kerugian bagi masa depan kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo Lapor Pajak Kamu dengan Aplikasi Pajak Online

Ayo sudah bulan Februari sebentar lagi Maret, kamu sudah mempersiapkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan Pribadi kamu belum? Jangan lupa lho deadline pelaporan SPT secara mandiri tanggal 31 Maret setiap tahunnya. Sebagai warga negara yang baik kamu jangan sampai lupa ya untuk melaporkan SPT kamu setiap tahunnya. Bagi para pegawai yang bekerja di perusahaan, setiap penghasilan kita setiap bulannya sudah dipotong pajak penghasilan (Pph 21) dan disetorkan ke kantor pajak oleh perusahaan. Walaupun sudah disetorkan pajak penghasilan kita oleh perusahaan namun tetap menjadi kewajiban kita sebagai subjek pajak untuk melaporkan secara mandiri SPT kita. Laporan SPT itu mudah loh enggak ribet kok. Tapi wajib dilakukan ya jangan sampai nggak. Karena kalau kamu nggak melaporkan SPT kamu secara mandiri sebelum 31 Maret setiap tahunnya, kamu bisa didenda oleh kantor pajak. Saat ini pelaporan SPT itu sudah bisa dilakukan secara online lu jadi tinggal klik aja nggak perlu ngeprint fo...

Green Jobs, Peluang Kerja Indonesia Kini

  Pertama kali mendengar  green jobs itu, jujur aku tidak paham sama sekali. Tukang kebunkah? Naturalist? Ahli Botani? Pekerjaan yang ramah lingkungankah? Hingga akhirnya aku mengetahui apa yang dimaksud tersebut. Dugaanku ternyata benar, bahwa Green Job secara mudah didefinisikan dengan pekerjaan yang ramah lingkungan. Namun jika mengutip definisi dari International Labour Organization (ILO), definisinya tidak hanya itu namun harus memenuhi 3 hal, yaitu : pekerjaan yang ramah lingkungan dari sisi prosesnya,  pekerjaan yang ramah lingkungan dari sisi produk dan jasa yang dihasilkan dan  pekerjaan yang dapat memberikan penghidupan yang layak.   Sepintas yang terlintas di pikiran tentang pekerjaan ini berarti pekerjaan yang berkaitan langsung dengan alam/lingkungan hidup seperti contohnya : ahli manajemen sampah, ahli energi terbarukan, ahli kehutanan, ahli pertanian dan lainnya. Selain dari pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak dapat dikategorikan ...

Tips Menghemat Pengeluaran di Masa Pandemi Covid-19

Tips Mengelola Keuangan Zaman pandemi covid-19 seperti ini, kita harus pintar-pintar dalam mengelola keuangan. Tips untuk mengelola keuangan itu sebenarnya mudah, kamu cukup menambah pemasukan dan mengurangi atau menghemat pengeluaran hanya 2 itu saja prinsipnya. Menambah pemasukan di zaman pandemi covid 19 seperti ini, pasti cukup menantang ya. Terkadang mempertahankan pemasukan yang sudah ada pun itu penuh dengan dinamika. Jadi untuk tips keuangan kali ini ini aku akan membahas lebih detil dari sisi mengurangi pengeluaran daripada di sisi menambah pemasukan. Tips untuk menambah pemasukan ditunggu di artikel berikutnya saja ya. Tips Mengurangi Pengeluaran Tentunya semua orang tidak mau ya untuk menurunkan gaya hidupnya terlepas apakah sebelumnya terbiasa hidup sederhana apalagi hidup bermewah-mewahan.  Gaya hidup seseorang itu melekat kepada kebiasaannya semenjak dia kecil jadi untuk mengubahnya dalam waktu yang singkat tentunya cukup sulit. Namun kita tidak ada pilihan lain, khus...